Membatik Bersama Anak Penderita Kanker

Kompas.com - 25/09/2012, 16:43 WIB

KOMPAS.com - Anak-anak penderita kanker membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dukungan semangat untuk memotivasi mereka berjuang melawan penyakit demi kesembuhan total. Berbagai kegiatan yang memberikan kesempatan pada anak-anak untuk menikmati dunianya, dunia anak-anak, menjadi hiburan sekaligus meningkatkan semangat anak untuk sembuh dan sehat.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap anak penderita kanker, kegiatan membatik diadakan untuk menyebarkan semangat positif. Bertempat di Yayasan Anyo Indonesia (YAI), Ketua YAI, Pinta Manullang-Panggabean bersama sejumlah relawan YAI, bergabung dengan sekitar 15 anggota organisasi sukarelawan karyawan General Electric Indonesia (GE Volunteers atau GEV) untuk membatik bersama anak-anak penderita kanker usia 3-13. GEV menunjuk pemerhati budaya batik dari komunitas Mbatikyuuuk, Indra Tjahjani, sebagai pembimbingnya.

Kegiatan membatik bertujuan mengedukasi, mengapresiasi budaya, juga meningkatkan kepercayaan diri anak-anak penderita kanker bahwa mereka bisa mendapatkan pengalaman berbeda yang menyenangkan. Selain untuk membantu anak-anak penderita kanker untuk melatih fokus dan konsentrasi.

"Anak-anak penderita kanker sulit berkonsentrasi, 15 menit saja sudah bagus," tutur Pinta saat jumpa pers di sela kegiatan GE Indonesia Peduli Anak-anak dengan Kanker di Indonesia, di YAI, Slipi, Jakarta, Selasa (25/9/2012).

Menurut Raechanah Syafei, GE Volunteers Indonesia Leader, kegiatan membatik dinilai dapat memberikan motivasi dengan kreativitas, untuk sedikit menghilangkan rasa lelah pada anak dalam melawan penyakitnya.

"Kegiatan ini ingin memberikan kesempatan pada anak untuk lebih bersemangat, dengan berkreativitas. Memberikan pengalaman lain yang belum tentu anak-anak pada umumnya bisa melakukannya. Mengaspirasi mereka untuk melakukan sesuatu," jelasnya.

Selain membatik, GEV juga mendonasikan buku dan alat menggambar, serta boneka beruang untuk menemani aktivitas anak-anak penderita kanker di rumah singgah ini. Para sukarelawan ini juga berkumpul di YAI sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kanker pada anak.

"Semoga GE Indonesia bisa terus bekerjasama dengan YAI, karena misinya simpel, meningkatkan awareness kanker pada anak. YAI juga menerima bantuan apa pun, dan kali ini kami berbagi bersama anak penderita kanker, berbagi kebersamaan, menyanyi dan makan bersama, membatik. Meluangkan waktu untuk anak-anak penderita kanker, hal kecil yang bisa kami lakukan, berbagi, membantu, dan tidak terbatas uang," jelas Raechanah.

Cammie Rice, GE VolunteerGlobal Growth & Operation, yang sedang melakukan kunjungan ke Indonesia, juga berinteraksi langsung dengan anak-anak penderita kanker di YAI, tak hanya saat membatik namun juga menyanyi dan menari bersama.

Kegiatan kesukarelawanan GE Indonesia di YAI ini merupakan kegiatan ke-12 per September 2012 menjalankan salah satu pilar GEV. GEV aktif dalam berbagai kegiatan sosial dipayungi empat pilar di antaranya community development untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan pemberdayaan perempuan; kesehatan; pendidikan; dan lingkungan.

Sementara, YAI merupakan rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker dari berbagai daerah yang sedang menjalani pengobatan di sejumlah rumah sakit di Jakarta. Anak-anak penderita kanker yang berpartisipasi dalam kegiatan GE Indonesia ini berasal dari Jawa Tengah, Sumatera, dan Kalimantan.

"Mereka adalah pasien yang menjalani rawat jalan atau rawat inap di sejumlah rumah sakit, yang membutuhkan dukungan terutama tempat tinggal selama di Jakarta. Akan membutuhkan biaya besar jika mereka harus menyewa tempat menginap selama berada di Jakarta. Setelah berobat, anak-anak bisa tinggal di rumah singgah untuk mengikuti berbagai aktivitas yang melibatkan sejumlah relawan, dan mereka tidak mendapatkan tindakan medis di rumah singgah," jelas Pinta.

YAI digagas oleh Pinta bersama suami, Sabar Manullang dan keluarga sebagai bentuk kepedulian untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kanker pada anak.

"Prioritas kami memang anak-anak penderita kanker, namun bagi yang membutuhkan tempat tinggal selama melakukan pengobatan, bisa ke rumah singgah ini. Belum banyak rumah singgah yang berdekatan dengan rumah sakit, terutama untuk mereka yang tidak mampu. Saya berharap, di setiap tempat yang berdekatan dengan rumah sakit di Jakarta, terdapat rumah singgah untuk memudahkan pasien yang melakukan pengobatan dalam jangka waktu lama," jelas ibu yang kehilangan putra pertama empat tahun silam, bernama Anyo, karena menderita leukemia.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau